News Update :

Komunitas Pecinta Motor

Komunitas Pecinta Mobil

Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Cerpen cinta tanpa kekasih

Cerpen cinta tanpa kekasih-Setalah genap sebulan aku jadian dengan Bayu, aku semakin yakin kalau aku nggak salah pilih dan benar-benar sudah menemukan belahan jiwaku, cinta sejatiku, cahaya hidupku, Bayu adalah segalanya bagiku. Aku mencinta dia dan akan selalu menyayangi dia untuk selamanya. Saat ini aku merasa puas karena penantian, dan usahaku selama ini berbuah kebahagiaan.

Telah sekian lama aku merasa menanti Bayu menjadi milikku seutuhnya. Akhirnya, cerita cintaku saat ini sudah happy ending, tingal sekarang aku dan Bayu yang menjalaninya. Dulu kami sering sekali bertengkar, hanya karena hal-hal kecil, kadang kami sampai ribut nggak menentu. Dulu sebagai teman, kami memang bukan teman yang cocok, kami saling menjatuhkan dan saling membenci. Tapi sekarang, benar kata orang-orang, kalau kamu membenci seseorang janganlah kamu sampai terlalu, dan hasilnya sekarang perasaan itu menjadi kebalikan bagi aku dan Bayu, justru kami sekarang saling mencintai dan menyayangi. Tapi yang jelas, aku juga nggak mau kehilangan Bayu, aku takut juga kalau aku terlalu mencintai dan menyayangi dia, bisa jadi aku dan dia akan terpisahkan.


“Hei Ela, kamu lagi ngapain? aku kangen deh sama kamu..”
“Halo Bayu, kan baru kemarin kita ketemu, kamu gimana sih?”
“Ela, kamu baik-baik ya di sana, jaga diri kamu dan jangan pernah lupakan aku ya sayang.”

“Kamu ngomong apa sih Bayu? Kamu ngigau ya?”
“Nggak, maksud aku yah kamu jangan macam-macam di sana, kan di kampus kamu banyak banget tuh cowok-cowok keren, ntar ada yang godain kamu lagi, trus kamu lupain aku.”
“Ha-ha.....ha-ha.... ya nggak dong sayang, aku nggak akan tergoda sama cowok-cowok di kampus ini, nggak ada yang kayak kamu di sini, dan yang aku mau tuh cuma kamu seorang.”

“Hei, kamu udah pintar ngegombal yah, siapa yang ajarin, ayo ngaku?”
“Bayu, kamu apaan sih?! Udah deh, aku mau kamu kasih aku kepercayaan untuk berteman dengan teman-temanku. Asal kamu tau aku berterima kasih banget selama ini sama Tuhan karena aku udah bisa memiliki kamu.”
“Iya Ela, dan asal kamu tau juga cintaku lebih besar dari yang pernah kamu bayangkan selama ini.”

Satu hal inilah yang selalu ditakutkan Bayu, dia selalu bilang aku akan tergoda oleh cowok-cowok di kampus, sementara aku nggak begitu? Justru akulah yang paling takut Bayu yang akan berpaling dariku, dia akan pergi meninggalkanku selamanya, dan cintanya hilang untukku. Bayu sekarang kerja di salah satu perusahaan asing terkemuka di kota ini, sebagai cowok kalau kita melihatnya dengan kesan pertama, dia adalah cowok yang diimpi-impikan semua cewek, karena Bayu punya segalanya, dengan modal wajah yang tampan, prilaku yang baik, kerja yang mapan, akupun takut dia akan pergi dariku, kalau seandainya ada cewek yang lebih menarik dariku, lebih sederajat dengan dia.

Bayu menggenggam tanganku erat sekali, aku merasakan kenyamanan saat dia memegang tanganku. Aku merasakan cintanya begitu kuat untukku. Saat kami masuk ke sebuah toko buku, Bayu bilang dia akan membelikan aku sebuah buku sastra yang dulu sudah pernah dibacanya dan sekrang dia ingin aku juga membaca buku itu. Setelah Bayu membayar buku tersebut, Bayu langsung menyerahkannya padaku. Aku kaget membaca sinopsisnya, ternyata buku itu berisi tentang kekuatan cinta yang tulus, yang akhirnya terpisahkan oleh maut, dan bagaimana sakitnya hati seorang kekasih saat menghadapi peristiwa kematian itu.

“Bayu, kenapa kamu kasih aku buku kayak gini?”
“Ela, aku pengen banget kamu baca buku ini, karena kalau kamu baca buku ini, kamu bakal lebih mengerti lagi apa itu cinta sejati, kamu akan merasakan betapa sangat berartinya orang yang mencintai kamu, pokoknya ceritanya bagus deh, kamu pasti nggak bakalan nyesal kalau baca buku ini, dan setelah membacanya, aku juga yakin kamu akan semakin sayang sama aku, he-he... he-he ...”
“Ih, kamu!! Ke-GR-an banget sih kamu, masa cuma gara-gara baca buku ini aku bisa semakin sayang sama kamu.”

“Eh, benaran, percaya deh sama aku. Kalau nggak, ntar kamu boleh musuhin aku lagi deh kayak dulu.”
“Bayu!! Kamu ngomong apaan sih, ya udah-udah, aku baca bukunya, kamu kira aku bakalan senang yah kalau kita musuhan lagi.”
Bayu aneh sekali hari ini. Tadi siang dia ngomong yang nggak-nggak di telpon, dan malam ini dia juga menyuruhku membaca buku yang isinya aneh, tentang kematian. Tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang, kata kematian terasa terngiang-ngiang di telingaku. Entah kenapa aku semakin ketakutan, takut akan kematian, takut akan kehilangan. Peganganku semakin aku kuatkan ke pinggang Bayu, aku peluk pungungnya dan aku sandarkan wajahku ke sana. Aku merasakan lagi kalau aku bersama Bayu, saat ini mungkin Bayu sedang tersenyum karena dia merasakan cintaku besar untuknya.
Sambil mengenderai motornya, sesekali dia menoleh ke belakang untuk melihatku, Bayu seperti orang yang was-was. Aneh, di sepanjang jalan aku terus kepikiran. Dan akhirnya bunyi keras dan goncangan hebat membuat aku kaget, nggak hanya goncangan, tapi sakit yang luar biasa di kepalaku, aku merasakan pusing serasa dunia ini berputar sangat kencang sekali, penglihatanku kabur, aku berusaha untuk menyadarkan diriku sendiri, apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba aku melihat Bayu yang sedang tidur di jalanan, samar-samar aku melihat dia seolah-olah tidur nyenyak, aku merasa mimpi, mana mungkin Bayu tidur di jalan, perasaan baru tadi aku boncengan dengan dia. Aku berjalan mendekati dia, tapi orang-orang yang ramai lebih dulu menghampiri dia, aku semakin kesakitan, aku nggak kuat lagi dan akhirnya yang aku lihat hanya kegelapan.

“Ela, kamu nggak apa-apa sayang, ini Mama.”
Aku pandangi wajah Mama. Dia seperti orang yang ketakutan, aku melihat sekelilingku, tiba-tiba aku baru sadar, selintas kejadian tadi malam teringat lagi olehku.
“Ma, Bayu mana? Dia baik-baik aja kan?”
“Ela, nanti aja, kamu istirahat dulu, kamu masih sakit sayang.”
“Nggak Ma, Ela nggak merasa sakit apa-apa, sekarang Ela mau lihat Bayu, dimana dia Ma?”
“Ela, luka kamu belum kering betul, tadi kamu terus-terusan ngigau kalau kamu ngerasain sakit.”
“Ma, Ela nggak ngerasa sakit, benaran, nggak tau kenapa Ela ngerasa sehat dan kuat Ma, sekarang pokoknya Ela mau ketemu Bayu, pasti saat ini dia butuhin Ela banget.”
“Ela, saat ini Bayu nggak butuh siapa-siapa lagi, dia udah aman Ela, dia udah tenang di sana, sekarang udah bahagia dengan kehidupannya sendiri, ada yang menjaga dia di sana.”
“Apa? Apa Ma, maksud Mama? Mama bohong!! Ela nggak percaya, nggak mungkin, nggak mungkin itu terjadi sama Bayu, dia udah janji Ma nggak akan pernah ninggalin Ela, dia sayang Ela, Ela sayang Bayu Ma .... nggak, nggak mungkin....

Teriakanku membuat semua suster datang ke tempatku, mereka berusaha menenangkanku, tapi aku nggak bisa, air mataku mengalir terus tiada hentinya, salah seorang suster baru saja akan memberiku suntikan penenang, tapi cepat-cepat aku elakkan.
“Tolong jangan suster, saat ini aku nggak butuh itu, aku hanya ingin menangis, aku nggak rela, aku marah sama Bayu, kenapa dia berani pergi ninggalin aku, padahal dulu dia udah janji nggak akan pernah pergi dariku, tapi kenapa Bayu bohong, kenapa sekarang justru dia pergi selamanya, dan aku tau dia nggak akan pernah kembali lagi kan untukku? Kenapa kamu tinggalin aku Bayu?”

“Ela, ini udah takdirnya, waktu Bayu udah habis di dunia, kamu jangan pernah marah sama Bayu sayang. Kamu harus yakin kalau sekarang Bayu udah bahagia di sana.”
“Ma, kenapa justru Bayu, kenapa buka Ela aja yang ada di sana? Ela mau kok Ma, Menggantikan Bayu, karena Ela sayang sama Bayu Ma, atau biarkan Ela untuk bersama dia sekarang, Ela pengen menyusul dia Ma, Ela nggak mau hidup di dunia ini tanpa dia, percuma Ma, percuma kalau nggak ada Bayu di sini, hidup Ela nggak ada arti apa-apa.”

Dengan cepat suster-suster itu memegang seluruh tubuhku, dan sesaat kemudian aku tertidur, di alam mimpi Bayu datang padaku. Dengan pakaian yang serba putih Bayu tersenyum padaku, dia berjalan mendekatiku, dia kelihatan senang sekali, seolah-olah dia mendapatkan kebahagiaan yang baru, yang tiada duanya di dunia, melihat Bayu terus-terusan tersenyum, rasanya aku ingin sekali ikut bersama dia, ikut merasakan kebahagiaan yang dia rasakan saat ini. Aku berusaha memeluknya dan menggenggam tangannya, dia membalas pelukanku, dia mendekapku, kembali aku meerasakan kenyamanan bersamanya, aku merasakan dia memberiku kekuatan, ketegaran, dia membelai rambutku dengan penuh rasa sayang, tapi pelan-pelan dia melepaskanku, dia justru menjauh dariku, semakin jauh, jauh dan hilang dari penglihatanku.

Saat aku sadar, aku menangis lagi, aku bukan menangis karena menahan sakit pada kepalaku, tapi aku menangis karena hatiku yang terasa amat sakit. Sekarang dunia bagiku terasa kelam, hujan nggak hanya membasahi bumi, tapi hujan membasahi kehidupanku, hatiku seolah-olah nggak berhenti menangis, menangisi orang yang telah pergi untuk selama-lamanya, dia nggak akan pernah kembali lagi.

Tiba-tiba mataku tertuju pada buku yang ada di atas meja, aku baru ingat kalau itu adalah buku yang dibelikan Bayu kemarin. Aku buka satu demi satu halaman buku itu, beberapa menit kemudian aku tenggelam dalam ceritanya. Aku menangis membaca buku itu, sekilas aku seolah-olah melihat wajah Bayu tersenyum di langit yang mendung di luar sana.

Entah kenapa sekarang aku kembali merasakan kekuatan itu, kekuatan cinta yang diberikan oleh Bayu, aku merasakan dia ada di dekatku, merangkulku, menenangkanku, aku dapat merasakan cinta dan sayangnya. Bayu, aku sangat mencintai dan menyayangi kamu, aku yakin kamu bahagia di sana, walaupun kamu sudah pergi dari kehidupanku, tapi kamu nggak akan pernah pergi dari hatiku, kamu abadi untukku, Bayu. Aku akan buktikan, kematianmu nggak akan pernah mengakhiri cintaku.***

Karya: Eka Fransiska

Itulah Cerpen cinta tanpa kekasih.semoga menghibur

Sumber cerpen:www.studentmagz.com

Hanya cerita anak kecil

Hanya cerita anak kecil - Hari telah sore. Layaknya anak-anak kecil lainnya, saya suka bersepeda. Atau bermain menggunakan sepeda. Lalu saya berinisiatif bersepeda dengan adik saya yang selisih umurnya hanya 3 tahun. Adik saya laki-laki. Waktu itu saya duduk di bangku sekolah dasar kelas kelas 3. boncengan atau bersepeda berdua. Saya di depan, adik saya duduk di palang tengah sepeda. Sepeda yang saya pakai bukan sepeda untuk orang dewasa. Tapi sepeda anak-anak.

Rumah saya memang tidak begitu jauh dengan sawah. Hanya berjarak seratus meter saja. Bersepeda ria di sore hari sungguh menyenangkan. Waktu itu sedang musim bermain layang-layang. Anak-anak yang lain ada yang bermain layang-layang. Bahkan juga orang-orang dewasa. Dan tibalah kami di jalan di tengah sawah, yang juga digunakan sebagai arena bermain layang-layang. Suasana cukup ramai.

Kami meluncur bersepeda dengan kecepatan rata-rata. Posisi kami saat itu persis di belakang seseorang yang sedang bermain layang-layang. Arah sepeda ke barat. Sedangkan orang yang bermain layang-layang menghadap ke utara. Karena saking asyiknya bersepeda, sehingga kurang memperhatikan tiba-tiba orang yang bermain layang-layang tersebut bergerak mundur. Atau orang tersebut yang terlalu asyik bermain layang-layang sehingga tidak memperhatikan kami. Sehingga orang tersebut menyenggol sepeda kami. Byurrrr!!!!! Kami berdua terperosok dan tercebur ke sawah. Lebih tepatnya tercebur ke kalen. Sungai kecil sebagai aliran air di pinggir sawah. Karena kebetulan jalan itu sempit dan ban sepeda kami memang jaraknya sangat dekat dengan pematang sawah.

Wah sungguh sial nasib kami. He he he. Otomatis kami menjadi pusat perhatian. Tapi waktu itu saya tidak merasakan seperti menjadi bahan olok-olokan. Maklum masih anak-anak. Kami berdiri dari pematang sawah dengan pakaian yang sudah kotor bercampur lumpur. Dan wajah cukup lusuh glepotan lumpur.

Saya keluar dari pematang sawah dengan mengangkat sepeda saya. Dibantu orang-orang yang bermain layang-layang. Mereka dengan cengar-cengir membantu ikut membersihkan dan memeriksa jikalau sepeda saya rusak. Atau mungkin ada yang terluka. ”Ora po-po tho dek?”, tanya seseorang. Saya hanya tersenyum. ”hua-hua-hua….”, rupanya adik saya tidak bisa menahan tangisannya.

Kami pulang berjalan kaki. Saya menuntun sepeda. Dan adek saya masih belum berhenti dari tangisannya. Walaupun semakin lirih. Tapi waktu itu, saya sama sekali tak merasa menyesal, bersedih ataupun takut naik sepeda. Serasa pengalaman biasa. Tapi bertahun-tahun kemudian dan sampai sekarang, saya baru merasakan kelucuan dan keceriaan pengalaman-pengalaman semasa kecil seperti itu. Terjatuh dari sepeda dan tercebur ke sawah karena kunduran wong dolanan layangan.

NB : kata dalam bahasa jawa, kunduran, sulit diterjemahkan secara lugas dalam satu kata di bahasa indonesia. Terjemahannya kurang lebih tersirat dalam cerita di atas. Wong dolanan layangan, artinya orang yang sedang bermain layang-layang.

posting diatas hanya cerita anak kecil

dongeng lampu ajaib

dongeng lampu ajaib,Dahulu kala, di kota Persia, seorang Ibu tinggal dengan anak laki-lakinya yang bernama Aladin. Suatu hari datanglah seorang laki-laki mendekati Aladin yang sedang bermain. Kemudian laki-laki itu mengakui Aladin sebagai keponakannya.

Laki-laki itu mengajak Aladin pergi ke luar kota dengan seizin ibu Aladin untuk membantunya. Jalan yang ditempuh sangat jauh. Aladin mengeluh kecapaian kepada pamannya tetapi ia malah dibentak dan disuruh untuk mencari kayu bakar, kalau tidak mau Aladin akan dibunuhnya. Aladin akhirnya sadar bahwa laki-laki itu bukan pamannya melainkan seorang penyihir. Laki-laki penyihir itu kemudian menyalakan api dengan kayu bakar dan mulai mengucapkan mantera. "Kraak…" tiba-tiba tanah menjadi berlubang seperti gua.

Dalam lubang gua itu terdapat tangga sampai ke dasarnya. "Ayo turun! Ambilkan aku lampu antik di dasar gua itu", seru si penyihir. "Tidak, aku takut turun ke sana", jawab Aladin. Penyihir itu kemudian mengeluarkan sebuah cincin dan memberikannya kepada Aladin. "Ini adalah cincin ajaib, cincin ini akan melindungimu", kata si penyihir. Akhirnya Aladin menuruni tangga itu dengan perasaan takut.

Setelah sampai di dasar ia menemukan pohon-pohon berbuah permata. Setelah buah permata dan lampu yang ada di situ dibawanya, ia segera menaiki tangga kembali. Tetapi, pintu lubang sudah tertutup sebagian. "Cepat berikan lampunya !", seru penyihir. "Tidak ! Lampu ini akan kuberikan setelah aku keluar", jawab Aladin.

Setelah berdebat, si penyihir menjadi tidak sabar dan akhirnya "Brak!" pintu lubang ditutup oleh si penyihir lalu meninggalkan Aladin terkurung di dalam lubang bawah tanah. Aladin menjadi sedih, dan duduk termenung. "Aku lapar, Aku ingin bertemu ibu, Tuhan, tolonglah aku !", ucap Aladin.

Aladin merapatkan kedua tangannya dan mengusap jari-jarinya. Tiba-tiba, sekelilingnya menjadi merah dan asap membumbung. Bersamaan dengan itu muncul seorang raksasa. Aladin sangat ketakutan. "Maafkan saya, karena telah mengagetkan Tuan", saya adalah peri cincin kata raksasa itu. "Oh, kalau begitu bawalah aku pulang kerumah." "Baik Tuan, naiklah kepunggungku, kita akan segera pergi dari sini", ujar peri cincin. Dalam waktu singkat, Aladin sudah sampai di depan rumahnya. "Kalau tuan memerlukan saya panggillah dengan menggosok cincin Tuan."

Aladin menceritakan semua hal yang di alaminya kepada ibunya. "Mengapa penyihir itu menginginkan lampu kotor ini ya ?", kata Ibu sambil menggosok membersihkan lampu itu. "Syut !" Tiba-tiba asap membumbung dan muncul seorang raksasa peri lampu. "Sebutkanlah perintah Nyonya", kata si peri lampu. Aladin yang sudah pernah mengalami hal seperti ini memberi perintah,"kami lapar, tolong siapkan makanan untuk kami". Dalam waktu singkat peri Lampu membawa makanan yang lezat-lezat kemudian menyuguhkannya. "Jika ada yang diinginkan lagi, panggil saja saya dengan menggosok lampu itu", kata si peri lampu.

Demikian hari, bulan, tahunpun berganti, Aladin hidup bahagia dengan ibunya. Aladin sekarang sudah menjadi seorang pemuda. Suatu hari lewat seorang Putri Raja di depan rumahnya. Ia sangat terpesona dan merasa jatuh cinta kepada Putri Cantik itu. Aladin lalu menceritakan keinginannya kepada ibunya untuk memperistri putri raja. "Tenang Aladin, Ibu akan mengusahakannya". Ibu pergi ke istana raja dengan membawa permata-permata kepunyaan Aladin. "Baginda, ini adalah hadiah untuk Baginda dari anak laki-lakiku." Raja amat senang. "Wah..., anakmu pasti seorang pangeran yang tampan, besok aku akan datang ke Istana kalian dengan membawa serta putriku".

Setelah tiba di rumah Ibu segera menggosok lampu dan meminta peri lampu untuk membawakan sebuah istana. Aladin dan ibunya menunggu di atas bukit. Tak lama kemudian peri lampu datang dengan Istana megah di punggungnya. "Tuan, ini Istananya". Esok hari sang Raja dan putrinya datang berkunjung ke Istana Aladin yang sangat megah. "Maukah engkau menjadikan anakku sebagai istrimu ?", Tanya sang Raja. Aladin sangat gembira mendengarnya. Lalu mereka berdua melaksanakan pesta pernikahan.

Nun jauh disana, si penyihir ternyata melihat semua kejadian itu melalui bola kristalnya. Ia lalu pergi ke tempat Aladin dan pura-pura menjadi seorang penjual lampu di depan Istana Aladin. Ia berteriak-teriak, "tukarkan lampu lama anda dengan lampu baru !". Sang permaisuri yang melihat lampu ajaib Aladin yang usang segera keluar dan menukarkannya dengan lampu baru. Segera si penyihir menggosok lampu itu dan memerintahkan peri lampu memboyong istana beserta isinya dan istri Aladin ke rumahnya.

Ketika Aladin pulang dari berkeliling, ia sangat terkejut. Lalu memanggil peri cincin dan bertanya kepadanya apa yang telah terjadi. "Kalau begitu tolong kembalikan lagi semuanya kepadaku", seru Aladin. "Maaf Tuan, tenaga saya tidaklah sebesar peri lampu," ujar peri cincin. "Baik kalau begitu aku yang akan mengambilnya. Tolong Antarkan kau kesana", seru Aladin. Sesampainya di Istana, Aladin menyelinap masuk mencari kamar tempat sang Putri dikurung. "Penyihir itu sedang tidur karena kebanyakan minum bir", ujar sang Putri. "Baik, jangan kuatir aku akan mengambil kembali lampu ajaib itu, kita nanti akan menang", jawab Aladin.

Aladin mengendap mendekati penyihir yang sedang tidur. Ternyata lampu ajaib menyembul dari kantungnya. Aladin kemudian mengambilnya dan segera menggosoknya. "Singkirkan penjahat ini", seru Aladin kepada peri lampu. Penyihir terbangun, lalu menyerang Aladin. Tetapi peri lampu langsung membanting penyihir itu hingga tewas. "Terima kasih peri lampu, bawalah kami dan Istana ini kembali ke Persia". Sesampainya di Persia Aladin hidup bahagia. Ia mempergunakan sihir dari peri lampu untuk membantu orang-orang miskin dan kesusahan.

Sumber : dongengkakrico.com

itulah sedikit dongeng lampu ajaib, semoga bisa menghibur

THE STORY OF PAK DUNGU

THE STORY OF PAK DUNGU-Long time ago, there was a man named Pak Dungu. He was fool but honest. One day, his wife asked him to sell buffalo to the livestock market. “Don’t sell the buffalo for less than three hundred rupiahs,” said his wife. The conversation was heard by Pak Busuk who was passing by the house. Pak Busuk immediately went to his friends’ house Pak Cokel and Pak Colek to ask them to cheat Pak Dungu. They all were not good people.

In the next morning, Pak Dungu led his buffalo to the market. On the way, he met Pak Busuk. “Where are you going to at this hour in the morning Pak Dungu? “asked Pak Busuk. “I want to sell this buffalo at the market” “what? Then where’s the buffalo?”asked Pak Busuk. “Right here which I am holding. Can’t you see this big buffalo? “asked Pak Dungu. Pak Busuk watched the animal and carefully examined it.

After examining for a while, Pak Busuk laughed loudly. “Ha ...ha...ha... of course you are such a fool, we can tell it so from your name. You call this animal a buffalo ? But this is a goat, not a buffalo ! Well, instead of wasting time going to the market, you better give this goat to me. I’ll pay for a hundred rupiah,” said Pak Busuk. “You’re crazy ! Calling this animal a goat ! Do you think.

I’m such a fool ! Hah... ! Know you’re trying to cheat me !” grumbled Pak Dungu, walking away.

A few minutes later, he met Pak Cokel on his way. “Where are you taking your goat Pak Dungu ?” asked Pak Cokel acting like feeling amazed. “This is a buffalo, not a goat ! I’m going to sell it at the market,” answered Pak Dungu. Pak Cokel laughed, stroking the animal “believe me, Pak Dungu. This is a goat. At the market you can sell it for just fifty rupiahs at the most. Sell it to me, I’ll buy it for a hundred rupiah !” Said Pak Cokel. Pak Dungu did not say a word. He continued to walk.

Walking away and holding his buffalo, Pak Dungu started to doubt. “is it a buffalo or a goat ? Why they called it a goat ?” Pak Dungu then stopped walking. He watched his buffalo and slapped it. “No ! It's really a buffalo, not a goat ! They just want to cheat me !” Pak Dungu kept walking but he was still in doubt “a buffalo or a goat ? A buffalo or a goat ?”

Still wandering on his way, suddenly he met Pak Colek who spoke to him, “Hi, Pak Dungu ! Where”re you going to ?” Pak Dungu answered him, “To the market.” How much will you sell your goat for ? Pak Dungu was getting more confused. His wife told him that it was a buffalo, but people said it was a goat. “Ah, my be this is really a buffalo. My wife wants to cheat me,” thought Pak Dungu. Then he said to Pak Colek,” I’ll sell it for three hundred rupiahs.”

Pak Colek acted as he was amazed, “It’s too expensive for a goat. There are many that are cheaper at the market. Okay, I’ll buy it for a hundred rupiahs”. Because there had already three people who said that it was a goat, finally Pak Dungu believed that what he held was a goat, not a buffalo. He sold his buffalo to Pak Colek for a hundred rupiah.

Then, he went home. At home, Pak Dungu's wife got angry. “You’re really a fool ! Stupid ! You’re old enough to see the difference between a goat and a buffalo ! Are yu crazy ? You have sold that big buffalo for just a hundred rupiah ! You better find the buyer. Ask for the two hundred rupiahs ! Pak Dungu went to find Pak Colek. He was really upset. Apparently, he had already been cheated by Pak Cokel and Pak Colek very irritating by this, Pak Dungu wanted to cheat them back. He thought, making a plan. At last he had a good plan.

He took away a small bell from home. At the market, he came to the waiters of some food stalls. He gave them same money. “I will come back with three friends later on. Please serve them until they get satisfaction eating, “ordered Pak Dungu. “All right Pak Dungu, “said each waiter at food stall.

After finish eating I will ring the small bell. Please answer it’s already paid !” ordered Pak Dungu. Pak Dungu looked for Pak Busuk, Pak Cokel and Pak Colek. They were invited to eat in a food stall. After finish eating Pak Dungu asked them, “how much?” “Fifteen rupiahs,” said the waiter. Pak Dungu rang his small bell. “Oh, its’ already paid.” said the waiter. For a couple times when they came to food stalls to *drink, eat and buy cigarettes the same thing happened to them. Finally Pak Busuk, Pak Cokel and Pak Colek felt amazed.

They thought that the small bell has magic power. They did not have to pay for eating and drinking if they ring the small bell. They wanted that thing so badly. Then Pak Busuk said to Pak Dungu, “Pak Dungu, please sell your small bell to us.” Oh, this is expensive. A magic bell. It costs two hundred rupiahs,” Pak Dungu said. Finally Pak Busuk and friends bought it for two hundred rupiahs.

The next day, Pak Busuk, Pak Cokel and Pak Colek went to a food stall. They are until they were satisfied. They are all the delicious food. After finish eating, Pak Busuk asked the waiter, “How much ?” “Thirty rupiahs,” said the waiter. Pak Busuk rang the small bell, but the waiter did not say a word. Pak Busuk and his friends walked out.

“Hey, wait ! Where’s the money ? If you don’t have money, don’t eat here !” Said the waiter, running after them. Pak Busuk and his friends were caught by many people and were ordered to pay for the food.

Komunitas Pecinta Korea

 

© Copyright Selamat Datang di Website To-SRC.com 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.