Kabupaten Wajo adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Sengkang.
Kabupaten ini memiliki luas wilayah 2.056,19 km² dan berpenduduk
sebanyak kurang lebih 400.000 jiwa. Bupati Wajo saat ini adalah Drs.
Andi Burhanuddin Unru, MM.
Sejarah
Pembentukan Kerajaan Wajo
| Lambang Kabupaten Wajo Motto: Maradeka Towajoe Adena Napopuang |
Di bawah bayang-bayang (wajo-wajo, bahasa Bugis, artinya pohon bajo)
diadakan kontrak sosial antara rakyat dan pemimpin adat dan bersepakat
membentuk Kerajaan Wajo. Perjanjian itu diadakan di sebuah tempat yang
bernama Tosora yang kemudian menjadi ibu kota kerajaan Wajo.
Ada versi lain tentang terbentuknya Wajo, yaitu kisah We Tadampali,
seorang putri dari Kerajaan Luwu yang diasingkan karena menderita
penyakit kusta. Beliau dihanyutkan hingga masuk daerah Tosora. Kawasan
itu kemudian disebut Majauleng, berasal dari kata maja (jelek/sakit)
oli' (kulit). Konon kabarnya beliau dijilati kerbau belang di tempat
yang kemudian dikenal sebagai Sakkoli (sakke'=pulih; oli=kulit) sehingga
beliau sembuh.
Saat beliau sembuh, beserta pengikutnya yang setia ia membangun
masyarakat baru, hingga suatu saat datang seorang pangeran dari Bone
(ada juga yang mengatakan Soppeng) yang beristirahat di dekat
perkampungan We Tadampali. Singkat kata mereka kemudian menikah dan
menurunkan raja-raja Wajo. Wajo adalah sebuah kerajaan yang tidak
mengenal sistem to manurung sebagaimana kerajaan-kerajaan di
Sulawesi Selatan pada umumnya. Tipe Kerajaan Wajo bukanlah feodal murni,
tetapi kerajaan elektif atau demokrasi terbatas.
Perkembangan Kerajaan Wajo
Dalam sejarah perkembangan Kerajaan Wajo, kawasan ini mengalami masa
keemasan pada zaman La Tadampare Pang Timaggalatung Arung Matowa, yaitu
raja Wajo ke-6 pada abad ke-15. Islam diterima sebagai agama resmi pada
tahun 1610 saat Arung Matowa Lasangkuru Patau Mula Jaji Sultan
Abdurrahman memerintah. Hal itu terjadi setelah Gowa, Luwu dan Soppeng
terlebih dahulu memeluk agama Islam.
Pada abad ke-16 dan 17 terjadi persaingan antara Kerajaan Makassar
(Gowa Tallo) dengan Kerajaan Bugis (Bone, Wajo dan Soppeng) yang
membentuk aliansi tellumpoccoe untuk membendung ekspansi Gowa.
Aliansi ini kemudian pecah saat Wajo berpihak ke Gowa dengan alasan Bone
dan Soppeng berpihak ke Belanda. Saat Gowa dikalahkan oleh armada
gabungan Bone, Soppeng, VOC dan Buton, Arung Matowa Wajo pada saat itu,
La Tenri Lai To Sengngeng tidak ingin menandatangani perjanjian
Bungayya.
Akibatnya pertempuran dilanjutkan dengan drama pengepungan Wajo,
tepatnya Benteng Tosora selama 3 bulan oleh armada gabungan Bone,
dibawah pimpinan Arung Palakka.
Setelah Wajo ditaklukkan, tibalah Wajo pada titik nadirnya. Banyak
orang Wajo yang merantau meninggalkan tanah kelahirannya karena tidak
sudi dijajah.
Hingga saat datangnya La Maddukkelleng Arung Matowa Wajo, Arung
Peneki, Arung Sengkang, Sultan Pasir, beliaulah yang memerdekakan Wajo
sehingga mendapat gelar Petta Pamaradekangngi Wajo (Tuan yang memerdekakan Wajo).
Kontroversi
Arung Matowa Wajo masih kontroversi, yaitu:
Versi pertama, pemegang jabatan Arung Matowa adalah Andi Mangkona
Datu Soppeng sebagai Arung Matowa Wajo ke-45, setelah beliau terjadi
kekosongan pemegang jabatan hingga Wajo melebur ke Republik Indonesia.
Versi kedua hampir sama dengan yang pertama, tetapi Ranreng
Bettempola sebagai legislatif mengambil alih jabatan Arung Matowa
(jabatan eksekutif) hingga melebur ke Republik Indonesia.
Versi ketiga, setelah lowongnya jabatan Arung Matowa maka Ranreng
Tuwa (H.A. Ninnong) sempat dilantik menjadi pejabat Arung Matowa dan
memerintah selama 40 hari sebelum kedaulatan Wajo diserahkan kepada
Gubernur Sulawesi saat itu, yaitu Bapak Ratulangi.
Demikianlah sejarah Wajo hingga melebur ke Republik Indonesia, kemudian ditetapkan sebagai sebuah kabupaten sampai saat ini.
Kecamatan
Kabupaten Wajo dulunya terdiri dari 10 kecamatan, akan tetapi sejak
tahun 2000 terjadi pemekaran hingga saat ini terdapat 14 kecamatan,
yaitu:


0 Komentar:
Posting Komentar
Berikan komentarmu Sobat, tapi jangan Kasar dan Menyinggung, Tidak Suka dengan Post dan Blog ini, Mohon Maafkan Sobat, Jangan di Caci-Maki yahh. Makasih,,,
Peringantan :
Website to-SRC.com sangat tidak Menerima Komentar SPAM, Misalnya : SPAM yang paling Akut adalah Komentar yang menyertakan Link atau Nama Blog Sobat dalam komentar,,,
*Salam Blogging sobat*