- POHON BAJO
- Bertangkai/cabang tiga ialah bentuk asal daerah Kabupaten Wajo yang terdiri dari tiga Limpo, yaitu :
- Majauleng (Benteng Pola)
- Sabbangparu (Talotenreng)
- Takkalalla (Tua)
- Batang lurus ialah bercita-cita tinggi penuh kejujuran
- Daun sebanyak 30 lembar dan hijau melambangkan dewan rakyat wajo (ketika terciptanya republic wajo pada abad XIV) sedang warna hijau cita-cita kemakmuran negeri.
- Pada akar pohon tertulis aksara bugis menyatakan asal perkataan wajo.
- Bertangkai/cabang tiga ialah bentuk asal daerah Kabupaten Wajo yang terdiri dari tiga Limpo, yaitu :
- PITA
Pada pita terbentang terdapat salah satu dari pandangan masyarakat /rakyat wajo “MARADEKA TOWAJOE ADENA NAPOPUANG” yang artinya Rakyat Wajo merdeka, konsitusinya yang dipertuan dengan warna hijau di artikan makmur subur. - PADI, JAGUNG, IKAN GULA
Kesemuanya melambangkan kemakmuran yang Pokok Daerah Wajo - LETER W.
Letter w yang terbentuk ornament (hiasan) melambangkan seni ukir (kesenian yang berkembang di kabupaten wajo) - WARNA KUNING DAN MERAH
- merah berarti berani karena benar
- kuning berarti indah dan mulia
- kedua warna tersebut warna simbolis bagi jiwa masyarakat wajo
- WARNA DASAR
Bidang lambang berwarna putih yang diapit merah mencerminkan kepribadian masyarakat / rakyat wajo yaitu keberanian yang disandarkan pada kesucian - BENTUK LAMBANG
Bentuk perisai/tameng artinya kesiapsiagaan menghadapi setiap kemungkinan yang mengancam Masyarakat Wajo.
Komunitas Pecinta Motor
Komunitas Pecinta Mobil
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
11.00
Arti Lambang
Label:
Bugis,
Sejarah,
Suku Bugis,
Wajo
10.48
Wajo berarti bayangan atau bayang-bayang (wajo-wajo). Kata Wajo
dipergunakan sebagai identitas masyarakat sekitar 605 tahun yang lalu
yang menunjukkan kawasan merdeka dan berdaulat dari kerajaan-kerajaan
besar pada saat itu.
Sumber : http://id.wikipedia.org/
Sejarah Kabupaten Wajo
Kabupaten Wajo adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Sengkang.
Kabupaten ini memiliki luas wilayah 2.056,19 km² dan berpenduduk
sebanyak kurang lebih 400.000 jiwa. Bupati Wajo saat ini adalah Drs.
Andi Burhanuddin Unru, MM.
Sejarah
Pembentukan Kerajaan Wajo
| Lambang Kabupaten Wajo Motto: Maradeka Towajoe Adena Napopuang |
Di bawah bayang-bayang (wajo-wajo, bahasa Bugis, artinya pohon bajo)
diadakan kontrak sosial antara rakyat dan pemimpin adat dan bersepakat
membentuk Kerajaan Wajo. Perjanjian itu diadakan di sebuah tempat yang
bernama Tosora yang kemudian menjadi ibu kota kerajaan Wajo.
Ada versi lain tentang terbentuknya Wajo, yaitu kisah We Tadampali,
seorang putri dari Kerajaan Luwu yang diasingkan karena menderita
penyakit kusta. Beliau dihanyutkan hingga masuk daerah Tosora. Kawasan
itu kemudian disebut Majauleng, berasal dari kata maja (jelek/sakit)
oli' (kulit). Konon kabarnya beliau dijilati kerbau belang di tempat
yang kemudian dikenal sebagai Sakkoli (sakke'=pulih; oli=kulit) sehingga
beliau sembuh.
Saat beliau sembuh, beserta pengikutnya yang setia ia membangun
masyarakat baru, hingga suatu saat datang seorang pangeran dari Bone
(ada juga yang mengatakan Soppeng) yang beristirahat di dekat
perkampungan We Tadampali. Singkat kata mereka kemudian menikah dan
menurunkan raja-raja Wajo. Wajo adalah sebuah kerajaan yang tidak
mengenal sistem to manurung sebagaimana kerajaan-kerajaan di
Sulawesi Selatan pada umumnya. Tipe Kerajaan Wajo bukanlah feodal murni,
tetapi kerajaan elektif atau demokrasi terbatas.
Perkembangan Kerajaan Wajo
Dalam sejarah perkembangan Kerajaan Wajo, kawasan ini mengalami masa
keemasan pada zaman La Tadampare Pang Timaggalatung Arung Matowa, yaitu
raja Wajo ke-6 pada abad ke-15. Islam diterima sebagai agama resmi pada
tahun 1610 saat Arung Matowa Lasangkuru Patau Mula Jaji Sultan
Abdurrahman memerintah. Hal itu terjadi setelah Gowa, Luwu dan Soppeng
terlebih dahulu memeluk agama Islam.
Pada abad ke-16 dan 17 terjadi persaingan antara Kerajaan Makassar
(Gowa Tallo) dengan Kerajaan Bugis (Bone, Wajo dan Soppeng) yang
membentuk aliansi tellumpoccoe untuk membendung ekspansi Gowa.
Aliansi ini kemudian pecah saat Wajo berpihak ke Gowa dengan alasan Bone
dan Soppeng berpihak ke Belanda. Saat Gowa dikalahkan oleh armada
gabungan Bone, Soppeng, VOC dan Buton, Arung Matowa Wajo pada saat itu,
La Tenri Lai To Sengngeng tidak ingin menandatangani perjanjian
Bungayya.
Akibatnya pertempuran dilanjutkan dengan drama pengepungan Wajo,
tepatnya Benteng Tosora selama 3 bulan oleh armada gabungan Bone,
dibawah pimpinan Arung Palakka.
Setelah Wajo ditaklukkan, tibalah Wajo pada titik nadirnya. Banyak
orang Wajo yang merantau meninggalkan tanah kelahirannya karena tidak
sudi dijajah.
Hingga saat datangnya La Maddukkelleng Arung Matowa Wajo, Arung
Peneki, Arung Sengkang, Sultan Pasir, beliaulah yang memerdekakan Wajo
sehingga mendapat gelar Petta Pamaradekangngi Wajo (Tuan yang memerdekakan Wajo).
Kontroversi
Arung Matowa Wajo masih kontroversi, yaitu:
Versi pertama, pemegang jabatan Arung Matowa adalah Andi Mangkona
Datu Soppeng sebagai Arung Matowa Wajo ke-45, setelah beliau terjadi
kekosongan pemegang jabatan hingga Wajo melebur ke Republik Indonesia.
Versi kedua hampir sama dengan yang pertama, tetapi Ranreng
Bettempola sebagai legislatif mengambil alih jabatan Arung Matowa
(jabatan eksekutif) hingga melebur ke Republik Indonesia.
Versi ketiga, setelah lowongnya jabatan Arung Matowa maka Ranreng
Tuwa (H.A. Ninnong) sempat dilantik menjadi pejabat Arung Matowa dan
memerintah selama 40 hari sebelum kedaulatan Wajo diserahkan kepada
Gubernur Sulawesi saat itu, yaitu Bapak Ratulangi.
Demikianlah sejarah Wajo hingga melebur ke Republik Indonesia, kemudian ditetapkan sebagai sebuah kabupaten sampai saat ini.
Kecamatan
Kabupaten Wajo dulunya terdiri dari 10 kecamatan, akan tetapi sejak
tahun 2000 terjadi pemekaran hingga saat ini terdapat 14 kecamatan,
yaitu:
Label:
Bugis,
Sejarah,
Suku Bugis,
Wajo
10.39
NAMA-NAMA BUGIS
Ambo Bengnga Membuat orang terkagum-kagum
Ambo Enre Hidupnya selalu meningkat
Ambo Jeru’
Ambo Lalo Hidupnya selalu mudah, semua rintanga dapat dilalui dengan mudah
Ambo Tuo Panjang umur
Ambo Uleng Bercahaya bagai Bulan
Ambo Upe Dilingkupi keberuntungan
Ambo Were Yang memiliki Karomah
Ambo Unru Yang Handal
Ambo Tang Memiliki pendirian teguh
Ambo Gau
Ambo Wellang Memberi Pencerahan
Ambo Gatta
Ambo Lau
Ambo Cenning Yang manis (dalam hati), selalu dirindukan
Daeng Malomo
Daramang
Indo Keteng
Indo Laba
Indo Takko
Indo Tang
Kambang
Karateng
Kasii
Kasumang
La Tinro
La Tunrung
La Oddang 1.
Latippa
Maddaremmeng
Makkatengnga
Mappanyokki
Marauleng
Nyili
Nyompa
Oddang
Paduleng
Pallawarukka
Pannamo
Riyatte
Rawallangi
Piampo
Sanabe
Saribanong
Tenri Liweng
Sengngen
Sumpala
Tabbulu
Tappa
Tenri Abeng
Tenri Ajeng
Tenri Akko
Tenri Akku
Tenri Ampa
Tenri Atu
Tenri Awaru
Tenri Balebo
Tenri Bali
Tenri Bengnga
Tenri Dala
Tenri Dio
Tenri Eja
Tenri Elle
Tenri Esa
Tenri Gappa
Tenri Gau
Tenri Jaja
Tenri Lengka
Tenri Ola
Tenri Oja
Tenri Pada
Tenri Pakku
Tenri Palalo
Tenri Paweli
Tenri Rawe
Tenri Sai
Tenri Sa’na
Tenri Sangkala
Tenri Sanna
Tenri Sapada
Tenri Sau
Tenri Sessu
Tenri Siu
Tenri Sompa
Tenri Sukki
Tenri Sumpala
Tenri Uji
Tenri Ukke
Tenri Uleng
Tenri Uraga
Tenri Wali
Tenri Waru
Tenri Yasim Limpo
Tenri Yatte
Unde
Yasim Limpo Enong
Sumber : http://portalbugis.wordpress.com/
Ambo Enre Hidupnya selalu meningkat
Ambo Jeru’
Ambo Lalo Hidupnya selalu mudah, semua rintanga dapat dilalui dengan mudah
Ambo Tuo Panjang umur
Ambo Upe Dilingkupi keberuntungan
Ambo Were Yang memiliki Karomah
Ambo Unru Yang Handal
Ambo Tang Memiliki pendirian teguh
Ambo Gau
Ambo Wellang Memberi Pencerahan
Ambo Gatta
Ambo Lau
Ambo Cenning Yang manis (dalam hati), selalu dirindukan
Daeng Malomo
Daramang
Indo Keteng
Indo Laba
Indo Takko
Indo Tang
Kambang
Karateng
Kasii
Kasumang
La Tinro
La Tunrung
La Oddang 1.
Latippa
Maddaremmeng
Makkatengnga
Mappanyokki
Marauleng
Nyili
Nyompa
Oddang
Paduleng
Pallawarukka
Pannamo
Riyatte
Rawallangi
Piampo
Sanabe
Saribanong
Tenri Liweng
Sengngen
Sumpala
Tabbulu
Tappa
Tenri Abeng
Tenri Ajeng
Tenri Akko
Tenri Akku
Tenri Ampa
Tenri Atu
Tenri Awaru
Tenri Balebo
Tenri Bali
Tenri Bengnga
Tenri Dala
Tenri Dio
Tenri Eja
Tenri Elle
Tenri Esa
Tenri Gappa
Tenri Gau
Tenri Jaja
Tenri Lengka
Tenri Ola
Tenri Oja
Tenri Pada
Tenri Pakku
Tenri Palalo
Tenri Paweli
Tenri Rawe
Tenri Sai
Tenri Sa’na
Tenri Sangkala
Tenri Sanna
Tenri Sapada
Tenri Sau
Tenri Sessu
Tenri Siu
Tenri Sompa
Tenri Sukki
Tenri Sumpala
Tenri Uji
Tenri Ukke
Tenri Uleng
Tenri Uraga
Tenri Wali
Tenri Waru
Tenri Yasim Limpo
Tenri Yatte
Unde
Yasim Limpo Enong
Sumber : http://portalbugis.wordpress.com/
10.17
Kata Bugis Berasal Dari Nama La Sattumpugi
Suku Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Deutero-melayu, atau Melayu muda. masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Kata ‘Bugis’ berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan ‘ugi’ merujuk pada raja pertama kerajaan Cina (bukan negara Tiongkok, tapi yang terdapat di jazirah Sulawesi Selatan tepatnya Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo saat ini) yaitu La Sattumpugi.
Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang/pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading.
Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar didunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk Banggai, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.
Dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan lain. Masyarakat Bugis ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik dan besar antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa dan Sawitto (Kabupaten Pinrang), Sidenreng dan Rappang. Meski tersebar dan membentuk etnik Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar. Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Sinjai, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang.
Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi Birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan.
Konflik antara kerajaan Bugis dan Makassar serta konflik sesama kerajaan Bugis pada abad 16,17,18 dan 19, menyebabkan tidak tenangnya daerah Sulawesi Selatan. Hal ini menyebabkan banyaknya orang Bugis bermigrasi terutama didaerah pesisir. Komunitas Bugis hampir selalu dapat ditemui di daerah pesisir di nusantara bahkan sampai ke Malaysia, Filipina, Brunei dan Thailand. Budaya perantau yang dimiliki orang Bugis didorong oleh keinginan akan kemerdekaan.
Asal Kata Bugis
Suku Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Deutero-melayu, atau Melayu muda. masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Kata ‘Bugis’ berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan ‘ugi’ merujuk pada raja pertama kerajaan Cina (bukan negara Tiongkok, tapi yang terdapat di jazirah Sulawesi Selatan tepatnya Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo saat ini) yaitu La Sattumpugi.
Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang/pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading.
Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar didunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk Banggai, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.
Dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan lain. Masyarakat Bugis ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik dan besar antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa dan Sawitto (Kabupaten Pinrang), Sidenreng dan Rappang. Meski tersebar dan membentuk etnik Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar. Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Sinjai, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang.
Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi Birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan.
Konflik antara kerajaan Bugis dan Makassar serta konflik sesama kerajaan Bugis pada abad 16,17,18 dan 19, menyebabkan tidak tenangnya daerah Sulawesi Selatan. Hal ini menyebabkan banyaknya orang Bugis bermigrasi terutama didaerah pesisir. Komunitas Bugis hampir selalu dapat ditemui di daerah pesisir di nusantara bahkan sampai ke Malaysia, Filipina, Brunei dan Thailand. Budaya perantau yang dimiliki orang Bugis didorong oleh keinginan akan kemerdekaan.
09.54
Amanat Arung Matowa Wajo La Mungkace’ To Uddama
Kabupaten Wajo adalah salah
satu kabupaten dalam lingkup wilayah Propinsi Sulawesi Selatan. Di
sekitar tahun 1450 di daerah ini pernah berdiri sebuah kerajaan yang
dinamai Kerajaan
Wajo sebagai kelanjutan dari Dinasti Cinnatobi, rajanya
disebut Arung Matowa Wajo dan rakyatnya disebut To
Wajo.
Di akhir pertengahan kedua Abad ke XVI sampai awal pertengahan pertama
Abad XVII, Kerajaan Wajo dipimpin oleh seorang raja yang dikenal amat
bijaksana dan meninggalkan banyak pesan sebagaimana tercatat dalam
Lontaraq. Arung Matowa Wajo yang penulis maksud adalah Matinroe ri
Kannana, yang pernah ‘diselamatkan’ oleh Dr. B. F. Matthes dalam
“Makassar Chrestomathie” yang terbit dan dicetak di Amsterdam, tahun
1860.
Nama sebenarnya La Mungkace
To Uddamang, adalah Arung Matowa Wajo XI. Di masa kekuasaannya, turut
terlibat dalam pembentukan ‘triple alliance’ antara Bone Soppeng dan
Wajo, suatu persekutuan tiga kerajaan bugis dalam mengantisipasi
serangan militer Kerajaan Gowa. Persekutuan Bone, Soppeng dan Wajo
tersebut lebih masyhur dengan sebutan “Tellumpocoe” atau biasa juga
disebut “Lamumpatue ri Timurung”. Setelah wafat, beliau mendapat gelar
anumerta, “Matinroe ri Kannana”, yang artinya yang wafat bersama dengan
perisainya.
Pesan
Arung Matowa Wajo La Mungkace’ To Uddama tersebut adalah
sebagai berikut :
“Nakana Arung
Matowa nikanaya Matinroa ri Kannana, Pappasanna ri ana’na : Iapa antu
Patuppu batu makaappakabaji’ bu’ta, amballakiai nawa – nawa appaka.
Se’remi, malambusuka ; naia nikanaya malambusu’, nikasalaia
namammopporo’. Makaruana, mangngasenga, iapa nikana mangngaseng,
ancinikai bokona, Makatalluna, barania. Iapa nikana barani,
tata’bangkaya nawa – nawana nabattui kana – kana makodi, kana – kana
mabaji’. Makaappa’na, malammoroka ; iapa nikana malammoro’, mapainunga
riallo ribangngi”.
“Berkata Arung
Matowa, yang bernama Matinroa ri Kannana, amanatnya kepada anaknya,
“Seseorang baru dapat dinamai ‘patuppu batu’, jika dapat memperbaiki
tanah (Negara), sekiranya ia memiliki keempat pikiran ini. Pertama,
lurus hati. Adapun yang dikatakan lurus hati yaitu kalau orang
bersalah kepadanya dan diampuninya. Kedua, Berpengetahuan, yaitu yang
melihat (memperhatikan) belakangnya (akibat perbuatannya). Ketiga,
Berani, yaitu sekiranya tidak terkejut hatinya didatangi (mendengar)
kata – kata buruk dan kata – kata baik. Keempat, Pemurah , yaitu
sekiranya memberi minum siang dan malam”.
“Kaiapa nikana
patuppu batu, tatintoa matanna riallo ribangi a’nawanawai. Napunna uru
appanaung taua bine, a’barataki sampulu bangngi. Makaruanna, punna
uruma’rappo asenta a’barataki salapang bangngi. Iapa antu patuppu
batu, taenaya makodi bonena balla’na.”
“Seorang dapat
dinamai “pattuppu batu”, sekiranya ia tak tidur matanya siang dan malam
memikirkan rakyatnya dan kalau orang mulai menurunkan tanaman padi
(mulai bertanam padi), ia berkabung sepuluh hari ; yang kedua kalau padi
kita mulai berbuah kita berkabunglah Sembilan malam. Seorang dinamai
pattuppu batu, sekiranya seisi rumahnya tak ada yang jahat”.
“Naia antu nawa –
nawaya patambuangngangi arena. Uru – uruna, nawa – nawa pepe’
arena. Makaruanna nawa – nawa dje’ne arena. Makatallunna, nawa – nawa
anging arena. Makappa’na, nawa – nawa butta arena. Naia nawa – nawa
pepeka, lompoi gau’na, natanacinika bokona, teai nusauru’
risangkammanna, iamami angkana kalengna annaba gau’na, annaba
tangara’na, la’bu nawa – nawanna, barani. Naia nawa – nawa je’neka,
angngassengi, natamalambusa. Naia antu nawa – nawa anginga a’gau
magassingi natania lambusu’ nakimbolong. Naia antu nawa – nawa buttaya,
lambusuki namangngaseng.”
“Adapun
pikiran itu ada empat jenisnya. Pertama, pikiran api namanya ; kedua,
pikiran air namanya ; ketiga, pikiran angin namanya, keempat, pikiran
tanah namanya. Adapun pikiran api itu, besar perbuatan kelakuannya akan
tetapi tak diperhatikan akan akibat – akibatnya ; ia tak sudi dialahkan
oleh sesamanya ; hanya dialah menurut pendapatnya, yang benar perbuatan
dan kelakuannya, yang benar pikirannya, yang panjang akalnya dan yang
berani. Adapun pikiran air itu, berpengetahuan, akan tetapi tak lurus
hati. Adapun pikiran angin itu, berbuat dengan kekerasan (dengan
sekehendak hati), akan tetapi tidak dengan maksud lurus (baik). Adapun
pikiran tanah itu lurus hati dan berpengetahuan.”
“Talomo – lomo
sikaliai antu bicaraya nikabangngoi. Napunna nia’ nisala bicaraya,
tappu’ korro’-korroki tuma’bicaraya ; mapanraki buttaya ; tattompangi
assunna, nipasai pa’dinginnna, nipasoloro’ alunna, natimboi ruku’ –
ruku’ pallunna ; puttai tawa ; akanrei pepe’ pa’rasanganga ; tammanakkai
tawa ; mammongi tedonga ; tapoleni tinananga, lelasaki rappo rappo kayu
nilamunga”.
“Adapun
‘Bicara’ (Peraturan) itu tak boleh sekali – kali orang bodoh
terhadapnya, artinya tidak memahaminya. Kalau peraturan itu salah
dijalankan, orang yang menjalankannya itu harus putus kerongkongannya
(disembelih sampai mati), negeri akan rusaK, lesungnya tertelungkup,
nyirunya tergantung, alunya tersimpan (menandakan bahwa tak ada yang
akan ditumbuk, karena padi tak tumbuh dan tak berbuah). Dapurnya
ditumbuhi rumput – rumputan (menandakan bahwa orang tak pernah lagi
memasak pada dapur tersebut, karena tak ada lagi yang dapat dimasak).
Manusia akan punah ; negeri akan dimakan (dimusnahkan) oleh api ; orang –
orang (penduduk) tak akan beranak ; kerbau menjadi mandul (tak dapat
berkembang biak) ; tanaman tidak menjadi pohon ; pohon – pohon yang
ditanam gugur buahnya (berarti tak dapat mendatangkan hasil).”
“Napunna nitaba
tappu’na bicaraya, anjari tinananga, lab’bu umuru’na tuma’bicaraya ;
anjari tau jaia, kalumannyangi tu-mapa’rasanganga ; napunna anjari asea
tuju taunna, rassi irawa irate karaeng ma’gauka ; napunna ta’bangkang
anjari asea a’lonjo – lonjo sampulo taunna, rassi iratei – irawa
tuappa’rasanganga ; napunna appaenten bundu’ tumalompoa, longgangi nileo
talluntaung. ”
“Dan kalau
kita “mengena putusan peraturan” (menjalankan peraturan sebagaimana
mestinya), maka tanaman akan menjadi, orang yang menjalankan
pemerintahan akan panjang umurnya ; orang banyak (rakyat) akan bertambah
banyak ; penduduk akan menjadi kaya. Dan kalau padi menjadi dalam masa
tujuh tahun, maka raja yang bertakhta itu akan penuh dibawah dan diatas
(akan beroleh penuh kesejahteraan dan keselamatan). Dan kalau tiba –
tiba padi menjadi baik dalam masa sepuluh tahun berturut – turut, maka
rakyat akan menemui kesejahteraan dan keselamatan yang sepenuhnya. Dan
sekiranya pembesar – pembesar mengadakan perang, dapat leluasa dikepung
tiga tahun (artinya walaupun negerinya dikepung tiga tahun lamanya,
dapat juga mereka hidup dengan leluasa, tidak mengalami kesukaran apa –
apa).”
Pintu gerbang Kabupaten Wajo di malam hari.
Disana tertulis falsafah To Wajo. (foto : google)
Demikianlah beberapa
perkataan dari Matinroe ri Kannana, sebagai wasiat / warisan kepada
generasinya, tentunya banyak hal yang bisa kita petik dalam perkataan
Raja Wajo ini, paling tidak gambaran kebijaksanaannya yang
mewarnai semangat zamannya dan dalam menjalankan roda pemerintahan era
Kerajaan Bugis masih berlangsung. Pesan Raja Wajo ini kembali saya angkat
sebagai penegasan bahwa di zaman kerajaan Wajo masa lampau pun telah
diajarkan dengan sangat baik prinsip – prinsip kepemimpinan,
demokratisasi dan penegakan hukum, supaya menjadi pelajaran bagi
generasi sekarang.(*)
——————————————–
Kata – kata Sulit :
- Kanna
: merupakan kata bugis tua, dalam bahasa Bugis sekarang
disebut kaliao, yang artinya perisai.
- Tuppu,
attuppu (mattuppu), artinya bertekan dengan kaki.
Attuppu-batu, bertekan dengan kaki diatas batu, berdiri diatas batu ;
kata ini dikiaskan kepada raja yang dinobatkan karena pada waktu itu ia
dinobatkan, ia berdiri diatas “batu pelantikan”. Pattuppu batu,
dikiaskan kepada raja yang telah dinobatkan dan sedang dalam
pemerintahan.
- Ancini
bokona, artinya melihat belakangnya, memperlihatkan suasana
yang akan datang di kemudian hari.
Langganan:
Postingan (Atom)






